Untuk "Pencipta" filosofisku, simbol,tanda dan makna terliputi dalam wilayahMu.

Kamis, 07 November 2013


"Akhir-akhir ini, telah ada peningkatan aktivitas pekerja untuk menuntut upah yang lebih baik. Saya pikir demonstrasi damai dan bahkan pemogokan harus diterima sebagai bagian dari demokrasi kita," kata Boediono saat memberikan sambutan Indonesia Investment Summit 2013 di Jakarta, Kamis (7/11/2013). Dukungan dari wapres boediono terlihat dalam pernyataan yang ia ucapkan dihadapan ratusan investor asing di acara Indonesia invesment Summit 2013, tentu saja dukungan ini diharapkan mampu memberikan hawa positif dalam kelanjutan perjuangan kaum buruh untuk mendapatkan kesejahteraan. pergerakan kaum buruh tidak pernah berhenti dalam menuntut kesejahteraan, akan tetapi nampaknya kesejahteraan tersebut tak jua kunjung datang. Berangkat dari persoalan ini lalu timbullah pertanyaan kenapa kaum buruh tidak sejahtera??

Kita dapat berangkat dari posisi kaum buruh dalam menjawab pertanyaan tersebut. dalam sistem perekonomian kapitalis,kaum buruh dapat dikatakan berada diantara produsen dan konsumen, hal ini memungkinkan kaum buruh untuk bertindak sebagai perantara antara produksi dan konsumsi,selain itu di satu sisi buruh bertindak sebagai produsen yang ikut serta dalam aktivitas memproduksi barang, akan tetapi di sisi lain buruh juga bertindak sebagai konsumen yang ikut mengkonsumsi produk yang dihasilkan oleh produsen, dalam dualisme peran inilah posisi kaum buruh di era perekonomian kapitalis, persoalan kesejahteraan, kaum buruh tertinggal di dalamnya hal ini dapat dimaklumi dikarenakan dalam prinsip dasar kapitalis dimana produsen melayani konsumen sehingga setiap produk yang diciptakan oleh produsen merupan cerminan keinginan konsumen

Dengan prinsip diatas antara konsumen dan produsen menciptakan hubungan timbal balik, dimana konsumen akan mendapatkan produk yang di inginkan dan produsen akan mendapatkan pembayaran yang mereka inginkan,dengan demikian maka akan berjalanlah laju perekonomian kapitalis dimana arus distribusi produk akan berjalan lancar sehingga mampu menggerakkan perekonomian suatu negara. Akan tetapi ada yang janggal disini, yaitu peran buruh yang seakan menghilang ketika kapitalis hanya menitik beratkan kepada hubungan antara produsen dan konsumen saja, sehingga membuat peran buruh kemudian terkucilkan.

Jika kita anggapan saja bahwa prinsip kapitalis ini berjalan lancar, maka tentu saja akan tercipta suatu hubungan yang saling mensejahterakan antara produsen dan konsumen sehingga kesejahteraan mampu menyentuh kedua belah pihak, akan tetapi kesejahteraan ini tidak mampu menyentuh kaum buruh, hal ini diakabatkan kaum buruh adalah pelaku ekonomi yang berbeda, seperti yang dijelaskan diatas bahwa buruh mampu berlaku sebagai produsen akan tetapi juga mampu berlaku sebagai konsumen, sehingga kaum buruh telah mampu membentuk kelas tersendiri, yakni suatu kelas yang berbeda dengan produsen dan konsumen, sehingga perlu diadakan perbedaan antara kelas-kelas ekonomi tersebut.

Selasa, 05 November 2013


Pergeseran tipe masyarakat dari zaman ke zaman telah menghantarkan kita pada suatu tipe masyarakat yang baru yakni masyarakan konsumen. arus produksi yang pesat menandai suatu era modern dengan ditopang dengan ekonomi kapitalis, membuat dalam hitungan detik terciptanya suatu produk baru di seluruh belahan dunia. maka tak pelak produksi lantas menjelma menjadi kekuatan penting di dunia, disamping itu teknologi juga memiliki peran dalam membangun sistem produksi yang hebat, dengan mengandeng teknologi produk yang dihasilkan akan semakin canggih dan sesuai dengan perkembangan zaman. hasil dari produk yang semakin canggih dan variatif mampu menarik minat dari masyarakat sehingga diharapkan akan terciptanya suatu keseimbangan antara produksi dan konsumsi.

Akan tetapi sebuah gejala baru terlihat pada era sekarang ini, dimana produksi dan konsumsi telah memasuki tataran hyper. terutama konsumsi telah mengalami pergeseran, jika dahulu seorang filsuf kebangsaan jerman Karl Marx (1818-1883) mengatakan bahwa adanya 2 prinsip dasar konsumsi yakni nilai guna dan nilai tukar, nilai guna merupakan inti dari setiap objek produksi. Setiap objek pada hakikatnya memiliki nilai guna akan tetapi kemudian dengan berkembangnya kapitalisme maka muncullah suatu nilai baru yakni nilai tukar, setiap nilai guna dari suatu objek akan diukur dengan nilai tukar sehingga perpindahan objek dari satu tangan ke tangan lain akan berjalan lancar dengan adanya nilai tukar. Uang sebagai alat tukar yang diakui secara universal memainkan peran penting dalam proses perpindahan objek-objek produksi. Lebih lanjut Karl Marx meramalkan bahwa kelak pada kapitalis lanjut nilai guna akan digantikan oleh nnilai tukar, hal ini terjadi karena objek produksi telah kehilangan kepercayaannya dan kepercayaan masyarakat malah beralih kepada uang. sehingga uang sebagai nilai tukar mampu mengalahkan nilai guna dari barang atau produk.

Sabtu, 02 November 2013


Pengetahuan memberikan kekuasaan atas apa yang tidak dapat kita lakukan, dengan bantuan pengetahuan kita mampu melakukan banyak hal yang sebelumnya tidak pernah mampu kita lakukan atau bahkan bayangkan itulah kesimpulan umum yang sering kita dengar, pengetahuan sebagai pemberi berkah atas tindakan kita sehingga tindakan kita bisa keluar melampaui diri kita, Akan tetapi pengertian ini nampaknya lain jika berada dalam tangan Foucault (1926-1984), Foucault tampak membalik anggapan tersebut dengan menyatakan bahwa kekuasaan menentukan pengetahuan,dengan sebuah kekuasaan maka akan dapat ditentukan pengetahuan mana yang bisa diterima dan pengetahuan mana yang harus ditolak,ketika pengetahuan tersebut diterima maka pengatahuan tersebut harus dipakai oleh umat manusia dan sebaliknya terjadi bagi pengetahuan yang tertolak.
"Pengetahuan itu otoriter dan menindas" inilah kesimpulan yang dapat kita tarik jika mengacu pada paragraf diatas, pengetahuan yang sedang berada di puncak kekuasaan akan dengan serta merta menyingkirkan bentuk-bentuk pengetahuan yang lain dengan dirinya. jika dahulu ketika teologi mencapai puncak kejayaannya yang kemudian memanifestasikan diri dalam bentuk suatu lembaga keagamaan yang otoriter yaitu gereja, maka sekarang pun tidak ada bedanya dengan dahulu,Pengetahuan positiv menggantikan teologi dan memanifestasikan dirinya dalam lembaga pendidikan seperti sekolah,universitas dll. Jika dahulu gereja dengan sewenang-wenang menghukum para ilmuwan-ilmuwan yang memiliki pandangan lain dengan gereja, maka hal itu pun terjadi di masa sekarang dengan keabsolutan lembaga pendidikan yang selalu mendewakan metode ilmiahnya dan menyalahkan segala metode diluar metode ilmiah.

Kamis, 17 Oktober 2013


Gerak perkembangan zaman tak akan terjadi tanpa gerak perkembangan pengetahuan dalam suatu negari. Gerak pengetahuan itulah yang akan menggiring suatu zaman dan akan menandai zaman tersebut, Gerak perkembangan pengetahuan di suatu negara tentu berbeda dengan perkembangan pengetahuan di negara lain. Hal ini bisa disebabkan oleh kultur, budaya dan masyarakat yang berbeda dari suatu Negara dan Negara lainnya. Ilmu pengetahuan dewasa ini secara global telah dikuasai oleh paham positivism, Positivisme adalah suatu paham filsafat yang hanya mengakui kebenaran  atau pengetahuan yang benar kepada fakta-fakta positif, dan fakta-fakta positif harus bias dibuktikan dengan menggunakan metode ilmu pengetahuan yaitu eksperimentasi, observasi dan komparasi, Dan Jenis paham seperti inilah yang sekarang sedang menguasai dunia ilmu pengetahuan.

Seperti yang sudah dijelaskan diatas bahwa perkembangan pengetahuan selalu berbeda di setiapa Negara, dan dalam Negara kita nampaknya perkembangan pengetahuan tersebut selalu bergerak tidak stabil.Hal ini terjadi dikarenakan adanya benturan antara pengetahuan positif dan spiritual yang mewakili agama, benturan tersebut semakin keras rasanya kita dengar setiap hari dan seakan semakin tak mampu didamaikan, keegoisan pengetahuan positif yang tak mau berbagi tempat untuk kebenaran dengan spiritual memaksa spiritualitas harus mundur teratur dari dunia ilmu pengetahuan, apalagi dalam suatu era ketika kepercayaan penuh masyarakat modern telah didapat oleh pengetahuan positif. Segala hal yang tak mampu dijelaskan melalui metoda Eksperimentasi, Komparasi dan Observasi maka akan lansung tersingkir dari medan pengetahuan ilmiah. Lalu terjadilah sebuah dilema yang dialami oleh masyarakat negeri ini, dilain sisi mereka mengusung semangat rasionalitas ala positivis akan tetapi di sisi lain mereka tak bisa memungkiri bahwa mereka adalah masyarakat religius atau suatu masyarakat yang telah terbentuk dari kultur religius yang sarat akan nilai-nilai spiritualitas.

Rabu, 16 Oktober 2013

Materialisme adalah sebuah paham yang begitu populer di tengah kehidupan manusia, Pertumbuhan laju ekonomi yang semakin deras merupakan jasa dari materialisme yang telah berhasil menanamkan pengaruhya dalam dalam alam fikiran manusia, Produksi yang di imbangi oleh permintaan barang dan jasa yang besar menjadi penopang bagi mengalirnya masyarakat industri. Meski sering dianggap negatif akan tetapi tak bisa kita pungkiri bahwa materialisme memiliki andil yang begitu besar dalam sejarah peradaban umat manusia, Adalah Epikurus (341-270 S.M) yang mengawali lahirnya paham tersebut, menurut Epikurus realitas pokok tersusun atas subtansi yang dinamakan materi, sehingga tidak ada apapun dalam realitas melainkan materi, oleh karena itu ajaran etik tentang paham ini hanya memntingkan mencari kebahagiaan yang bersifat fisik saja. Sebelum Epicurus sudah ada seorang filsuf yang juga memberikan gagasan pembentuk dari paham materialisme ini, yakni Thales.
Thales menganggap setiap unsur dari kehidupan berasal dari air, dan juga ada Demokretos (450-360 S.M) yang menganggap bahwa dunia tersusun dari atom yang tidak bisa dibagi lagi dan tak dapat dipisahkan lagi, semua memiliki kualitas yang sama hanya berbeda dalam bentuk, ukuran dan letak tempatnya.